KEKUATAN
MASSA PERIFERAL
DI
BALIK PEMILIHAN GUBERNUR1
Oleh
: SYAM HADIJANTO2
Bukan
hanya cukup duduk, menikmati kekuasaan,
Bukan
hanya cukup berbicara, berujung kebohongan
Tapi
yang kami harapkan adalah sebuah sosok Putra Sang Fajar,
pemimpin
yang lahir dan bekerja untuk rakyat
Pesta demokrasi
masyarakat kota Jakarta telah berakhir dengan dilaksanakannya
pemilihan gubernur DKI Jakarta yang berlangsung dalam 2 putaran, yang
dimana dari hasil pemilihan baik putaran pertama dan kedua, pasangan
Jokowi dan Ahok tampil cukup mengejutkan. Sebagai pasangan calon yang
kurang begitu diunggulkan dalam bursa pemilihan, duet Jokowi-Ahok ini
ternyata mampu mengungguli pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang
diusung oleh 7 gabungan partai politik peraup 49% suara dalam pemilu
2009.
Berdasarkan hasil
putaran kedua pemilihan gubernur DKI Jakarta yang dilaksanakan 20
september 2012, masyarakat kota Jakarta akhirnya dengan lantang
memilih pasangan Jokowi-Ahok untuk memimpin kota jakarta kedepannya.
Hasil ini tentunya mengejutkan banyak pihak, karena disamping hanya
didukung oleh dua gabungan partai politik pengusung yakni Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia
Raya (GERINDRA), pasangan Jokowi-Ahok ini juga kerap diterpa manuver
politik melalui isu-isu yang muncul memanaskan situasi,
baik
itu
berupa isu money
politic
(politik uang) sampai isu yang cukup sensitif berupa SARA (Suku,
Agama, Ras, dan Golongan) yang terjadi selama masa kampanye.
Dari kemenangan yang
diperoleh oleh pasangan Jokowi-Ahok ini seolah telah mengisyaratkan
kepada kita semua bahwa keluh kesah masyarakat kota Jakarta khususnya
masyarakat Periferal
yang cenderung terpinggirkan dalam proses dan struktur kekuasaan
serta tidak menjadi variabel penting yang diperhitungkan dalam
perumusan kebijakan, ternyata mampu membungkam dan menjungkirbalikkan
seluruh opini kosong yang bermain didalam lakon sinetron bertajuk
Pilgub DKI Jakarta, hal ini ditunjukkan dengan adanya fenomena
masyarakat kota yang tidak lagi mengikuti instruksi dari partai
politik dan seolah-olah menyajikan kepada
kita semua sebuah
pertunjukkan antara Rakyat Vs Partai Politik.
Sebagai sebuah massa
politik, masyarakat periferal
merupakan masyarakat lapisan bahwa yang cenderung dijuluki sebagai
“penguasa
tersembunyi”
didalam lapisan masyarakat, yang sesungguhnya memiliki kekuatan yang
cukup besar dan dapat mempengaruhi peta kekuatan politik yang terjadi
didalam sebuah pemilihan umum, hal ini tentu harus menjadi sebuah
catatan penting karena melalui pilgub DKI Jakarta ini akhirnya sebuah
hegemoni
besar dari partai politik yang mencengkram layaknya seekor gurita
raksasa, ternyata mampu diruntuhkan oleh “penguasa
tersembunyi”
didalam lapisan masyarakat yang menginginkan sebuah perubahan dan
perbaikan yang nyata dan bukan hanya sebuah janji kosong yang dikemas
melalui sebuah visi dan misi yang semu bagaikan sebuah bumbu pemikat
untuk meraih simpati masyarakat, yang sebenarnya hanyalah sebuah
pragmatisme
politik yang cenderung memasung roh demokrasi di Indonesia.
Pelaksanaan pilgub
DKI Jakarta ini seharusnya bisa menjadi sebuah bahan evaluasi bagi
pelaksanaan Pilgub di daerah lain, yang dimana pelaksanaan pesta
demokrasi seharusnya tidak perlu dibumbui oleh sebuah isu SARA yang
mengalir bagai sebuah lantunan syair
indah nan merdu yang dapat menimbulkan perpecahan didalam masyarakat
Indonesia yang berdiri didalam bangunan Pluralisme.
Hadirnya isu SARA ini justru akan mempengaruhi sebuah stabilitas
politik dan dapat merusak citra bhineka
tunggal ika yang
hanya akan berujung kepada terciptanya sebuah konflik horizontal
didalam masyarakat Indonesia. Hal inilah yang kemudian harus kita
hindari karena Pilgub sebagai sebuah alat demokrasi di tingkat lokal
haruslah dijalankan secara jujur, bersih, bebas, kompetitif, dan
adil, serta harus benar-benar bisa menjadi suatu alat ukur yang sahih
untuk menentukan kualitas demokrasi yang telah dibangun, serta dapat
mengembalikan makna kedaulatan rakyat yang sesungguhnya.
Salah satu pesan
yang tersirat melalui pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta ini ialah dimana
ditengah merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik
yang dibangun, masyarakat kota Jakarta masih bisa bersikap selektif
dan tidak bersikap apatis terhadap pelaksanaan pesta demokrasi serta
dapat menetralisir segala isu yang coba dimunculkan oleh oknum-oknum
tidak bertanggung jawab yang hanya berusaha memanipulasi guna
mendapatkan legitimasi semata, ini membuktikan bahwa kekuatan dari
massa
periferal
yang merupakan kaum minoritas atau kaum terpinggirkan ini telah
bekerja didalam Pilgub DKI Jakarta melalui sebuah media transformasi
suara, yang merupakan suatu geliat aksi bungkam yang dapat saja
berkembang menjadi sebuah aksi yang lebih luas berupa gerakan aksi
kolektif, manakala harapan yang mereka inginkan berujung dengan
kekecewaan yang mendalam, maka sudah selayaknya keberadaan dari
masyarakat periferal
ini perlu menjadi perhatian serius dari pihak pemerintah DKI Jakarta,
dalam rangka menggerakkan roda pembangunan, karena massa periferal
ini
juga memegang peranan penting dalam stabilitas politik dan ekonomi
Hal inilah yang
kemudian harus menjadi sebuah angin segar didalam pelaksanaan pesta
demokrasi pada tataran lokal, dimana masyarakatlah yang akhirnya
harus menjadi sebuah ujung tombak penentu dari berakhirnya sebuah
lakon sinetron tersebut, sehingga masyarakat harus benar-benar
menyadari perannya tersebut, sehingga hal ini dapat menjadi sebuah
perbaikan terhadap kondisi demokrasi yang telah dibangun, karena
suatu alam demokrasi yang sesungguhnya hanya
akan
tercipta melalui harmonisasi seluruh elemen yang terdapat didalam
proses demokrasi tersebut. Sehingga kedepannya melalui sebuah pesta
demokrasi di tingkat lokal ini,
akan mampu melahirkan sebuah sosok figur pemimpin yang benar-benar
bekerja serta mengabdi kepada rakyat, dan bukan mengabdi kepada salah
satu kepentingan golongan semata,
laksana lahirnya Putra Sang Fajar Jilid II.
2 Penulis
adalah Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Hukum.
0 komentar:
Posting Komentar